Senin, 25 Juni 2007

Buku, Toko Buku dan Film

Buku, Toko Buku, Film: Ziarah Seorang Penonton

Oleh: Mumu Muhajir

(1)

Sebenarnya didasari oleh keisengan belaka, sejak setahunan yang lalu saya kerap memperhatikan setting tempat dan bangunan sebuah film yang saya tonton. Kebanyakan film-film yang saya tonton keluaran Hollywood, kadang film-film dari benua Eropa (Belanda, Italia, Prancis dan Spanyol), ada juga film-film dari Asia, Amerika Latin dan sedikit film produksi dalam negeri. Karena untuk proyek pribadi serta penyakit malas yang lumayan akut, ada beberapa film yang lewat begitu saja tanpa saya perhatikan cermat dan mencatat setting tempat dan bangunan apa saja yang tampil dalam film tersebut.

Bagi saya sangat menarik sekali untuk mencari “apa dan mengapa”-nya sebuah setting tempat dan bangunan itu ditampilkan, dikaitkan dengan keutuhan film itu, baik yang bersinggungan dengan alur cerita, pembangunan karakter tokohnya dan lain-lain. Tentu saja kekurangpahaman akan teori-teori sinema dan teknik pembuatan film membuat pencatatan saya kering dan dangkal. Tapi di zaman di mana katanya penonton punya kemerdekaan untuk menafsirkan lain sebuah teks (baca:film), dengan dasar pengetahuan yang dikuasainya. Pengarang sudah di liang lahat, begitu Roland Barthes menyemangati saya, sehingga saya merasa punya hak untuk membagi tafsiran saya ke sidang pembaca.

Lagi pula banyak orang pintar yang melihat film bukan sekedar karya seni, ia juga adalah praktek sosial dan komunikasi massa. Secara praktek sosial, film dianggap mempunyai keterkaitan dengan ideologi kebudayaan di mana film itu diproduksi dan dikonsumsi. Sementara sebagai komunikasi massa, film adalah media di mana pengirim pesan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada penerima pesan. Penerima pesan/pembaca kemudian melakukan proses pembacaan untuk menemukan atau menciptakan makna-makna dari pesan tersebut ketika ia bergelut dengan sebuah teks. Pesan-pesan dalam film dijelmakan dalam bentuk serangkaian gambar yang sebenarnya telah dibangun dengan kode-kode sinematografi tertentu sehingga diharapkan para penonton bisa menangkap maksud dari gambar-gambar tersebut. Makna yang ditemukan atau diciptakan oleh pembaca/penonton bisa jadi adalah makna yang tidak terpikirkan oleh si produsen makna sendiri. Barangkali ia adalah sebagaian kecil dari apa yang tidak dikatakan oleh Hermes. Anda kenal Hermes, dewa Yunani kuno, yang tidak akan berbohong, walaupun belum tentu menyampaikan semua yang ia tahu, ketika menyampaikan sebuah pesan dari Sang Maha Dewa di langit kepada manusia.

Dalam catatan saya, setting tempat dan bangunan yang kerap muncul adalah tempat tinggal (rumah biasa/apartemen), tempat publik (jalan raya, bandara, stasiun, taman), tempat makan (restoran/bar/café), tempat usaha (kantor, toko (supermarket, pasar tradisional), hotel/motel), rumah sakit/klinik, kantor polisi/instansi pemerintah. Barangkali film yang saya tonton kebanyakan adalah film-film tentang kota dan kehidupannya, sehingga lahan pertanian atau peternakan tidak saya cantumkan di sana.

Bagian-bagian tertentu dari setting dominan itu ada yang lebih ditonjolkan dibandingkan bagian-bagian lain dari setting yang sama. Ketika film menyorot adegan di sebuah restoran, kamera secara sekilas mengambil gambar interiornya dan kemudian berhenti ketika menemukan tokoh ceritanya yang sedang duduk, sendirian atau ditemani oleh lawan mainnya. Sangat jarang film mengambil adegan di depan kasir. Namun berbeda jika film mengambil setting di supermarket, justru adegan ketika sang tokoh sedang membayar atau mengantri di kasir sering diambil.

Pemilihan setting disesuaikan dengan alur cerita ataupun untuk membangun karakter tokohnya. Dalam serial The Paractice yang berkisah mengenai firma hukum yang idealis, ditampilkan sebuah kantor pengacara yang sempit, sedikit kumuh dengan furniture yang biasa-biasa saja, tanpa gantungan lukisan mahal dan tidak memiliki front office. Tidak terkesan elegan sama sekali yang mencitrakan kekuasaan untuk memberikan rasa aman. Pernah dalam sebuah episode, mereka berbenturan kasus dengan sebuah firma hukum kaya dan terkenal (lengkap dengan lukisan mahal, interior dari kayu deretan kayu tebal tidak tersentuh, warna dominan coklat). Penonton secara tanpa sadar diarahkan untuk membuat kategori seperti ini: idealis=miskin, tidak idealis=kaya, karena kreator film dengan secara sengaja menampilkan kelicikan dan keserakahan firma kaya tersebut. Setahu saya sangat jarang The Practice menampilkan pengacara jujur dan baik hati dari firma hukum kaya.

Pada titik ini pemilihan setting menjadi sangat penting, sebagai media pesan. Ia menjadi salah satu cara mencari keterkaitan logis dengan bagian-bagian lain yang membangun sebuah film. Film tentang dokter sangat wajar ditampilkan ia sedang bekerja di rumah sakit/klinik, dengan bangsal pasiennya dan peralatan kedokteran. Karakter dokter macam apa yang ingin dibangun bisa kelihatan dari rumah sakit mana ia bertugas, di bagian mana dan bagaimana ia menyelesaikan konflik yang hadir sebagai konsekuensi logis adanya setting itu. Filmnya Robin William berjudul Patch Adam mungkin bisa membantu anda: menyindir kerja dokter yang terlalu kaku pada diagnosa ilmiah dan melupakan pendekatan kemanusian. Bahkan sebuah setting bisa menggambarkan lebih detail tentang apa yang sedang terjadi atau dirasakan oleh tokohnya atau bercerita banyak tentang latar belakang alur cerita sebuah film tanpa penjelasan tokohnya atau kehadiran narator (lihat pada film Baraka, garapan John Ficke).

Kalimat pemilihan setting membuat film tidaklah bersifat bebas nilai. Dalam arti bahwa setting yang hadir dalam film bukan hanya representasi dari tuntutan skenario film, misalnya. Pemilihan setting mengindikasikan adanya proses penyeleksian di awal atas beberapa setting yang ditawarkan; penyesuaian dengan keinginan pembuatnya atau anggaran yang ada; penyortiran pada tahap editing terhadap adegan, setting mana yang dihilangkan atau ditonjolkan tapi tidak mengurangi keutuhan cerita sebuah film.

Sehingga apa yang tampil dalam film bukan citra sebagaimana adanya. Ia adalah citra yang telah direncanakan, diangankan dan karenanya telah terpiuhkan. Masyarakat penonton kemudian secara tanpa sadar menerima citra itu sebagai realitas yang sebenarnya.

Film sebagaimana media massa lainnya, tidaklah pernah merepresentasikan realitas secara wajar. Ia bukan lagi dipandang sebagai cermin apa yang terjadi di masyarakat. Tetapi sudah mencapai taraf menyodorkan realitas lain, menodong dan memaksa penonton untuk mengikuti makna/nilai/citra yang ditampilkan. Ia secara halus bisa menghardik pemirsanya untuk selalu mengikuti apa yang diinginkannya. Pencipta film telah mengambil alih kacamata yang digunakan para penonton dengan miliknya dan menuntun penonton pada gambar yang hadir di layar. Berbeda dengan aktifitas membaca buku, dimana pembaca masih bisa menguasai apa yang dilihat oleh matanya, dalam film gambar itu menyerbu ke dalam retina mata tanpa bisa dicegah, diseleksi oleh otak. Gambar-gambar yang tidak sempat diseleksi itu akan tersimpan rapi di alam bawah sadarnya dan secara tanpa sadar pula menentukan tingkah lakunya.

Namun untunglah kejadiannya tidaklah berjalan satu arah seperti itu. Para kreator film itu tidaklah bekerja di ruang hampa. Ia melihat, mendengarkan, memeriksa, menyerap, memilih, menyesuaikan nilai apa yang berkembang di masyarakatnya. Ada proses timbal balik di sana.

Film pada akhirnya bisa menunjukkan pandangan pembuat film tentang sesuatu dan pada derajat tertentu, praktek sosial yang ada di masyarakat.

(2)

Berdasarkan apa yang telah saya uraikan di muka, betapa masgulnya saya ketika menyadari bahwa buku dan toko buku minim sekali ditampilkan dalam film-film yang saya tonton. Saya agak mafhum kalau itu adalah film-film Indonesia, dimana masyarakatnya masih bisa dikatakan tuna pustaka. Tapi jelas saya kaget ketika mereka adalah film-film keluaran Hollywood dan Eropa non Perancis, dimana ribuan judul buku diterbitkan per tahunnya dan tiap judul buku rata-rata dicetak pada kisaran ribuan, puluhan ribu bahkan ada yang sampai jutaan kopi; toko bukunya tersebar di sembarang tempat dan selalu ramai dikunjungi pengunjung dan tidak sepi dari beragam kegiatan; persebarannya ditunjang oleh media massa (konon di New York sana ada media massa mingguan yang khusus mengulas melulu resensi buku, yakni New York Review Of Books, atau acara bedah buku di televisi); masyarakat yang memandang buku sebagai kebutuhan, ditunjang oleh kebiasaan membaca yang sudah mendarah daging; dan orang bisa jadi kaya karena memilih berprofesi sebagai penulis.

Saya tidak mengerti, apakah kekokohan budaya membaca dan infrastruktur perbukuan di sana tidak menjadi penting bagi para pembuat film, untuk menaikkannya ke layar lebar/kaca? Ataukah mungkin karena saking kokohnya, menampilkan buku atau toko buku hanya akan membuat filmnya terlihat cerewet dan basi, mengomongkan sesuatu yang sudah biasa? Saya terus terang merasa aman untuk mengambil kemungkinan kedua. Buku dan toko buku jarang ditampilkan dalam film-film mereka karena ke dua hal itu sama biasanya seperti aktifitas menggosok gigi setelah makan dan hendak tidur. Seringkah anda melihat kegiatan di kamar mandi itu di film-film mereka?

Tapi bagaimana dengan film-film yang menghadirkan buku atau toko buku? Dari catatan saya, saya membaginya dalam tiga kategori. Pertama, film yang bertema tentang buku; kedua, film yang tidak bertema buku, namun menghadirkan buku dan toko buku tidak sebagai tempelan; ketiga, film yang menampilkan kedua hal itu hanya sebagai tempelan.

(3)

Untuk kategori pertama, saya bisa menyebut film Nineth Gate. Film yang dibintangi oleh Johnny Depp ini bercerita tentang misteri buku tua. Seorang pemburu buku tua dan langka yang berteman dengan seorang pemilik toko buku bekas sekaligus penadah hasil buruannya. Keduanya terlibat dalam intrik-intrik perburuan buku tua misterius yang dicari-cari oleh para bookaholic. Para bookaholic dalam film ini benar-benar gila. Ada yang menyimpan koleksi bukunya di ruang tersembunyi dengan kunci pengaman canggih dan rahasia. Koleksi bukunya memang langka, rata-rata cetakan abad ke 16 sampai abad ke 19, atau buku yang dicetak dalam edisi yang sangat terbatas atau buku unik. Mereka membuat semacam klub eksklusif yang isi perbincangannya melulu buku.

Pada awal film dinarasikan Johnny Depp berhasil memperdaya seorang kolektor buku tua yang sakit-sakitan lewat anak dan menantunya yang walaupun kelihatan cerdas dan berpendidikan tinggi, lebih merelakan koleksi buku langka ayahnya dijual dengan harga yang miring asalkan bisa tersingkir dari mata mereka, dan ruangan bekas rak buku itu bisa diganti dengan barang-barang furniture lain kesukaan mereka. Kolektor tua itu sangat marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri.

Pertentangan antar generasi mengenai pandangannya pada buku, menurut saya, tidak lepas dari citra yang melekat pada buku itu sendiri yang ditanamkan oleh masyarakat. Buku dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno, berat, serius, mengajak merenung, yang sepertinya cocok dengan pandangan kita tentang orang tua. Sementara orang muda adalah tipikal orang-orang yang cenderung hedonis, berpikir pendek, memandang hidup dengan ringan dan instan, yang jauh dari kesan yang dialamatkan pada buku. Secara tanpa sadar film ini pun selalu menampilkan kolektor buku sebagai seorang tua, serius, aneh dengan banyak kerutan di dahi.

Film ini berakhir dengan celoteh tentang ketamakan manusia dalam mendapatkan kebahagian lewat penguasaannya pada dunia seperti yang sudah dijanjikan oleh Lucifer, penulis buku misterius itu, dengan syarat menjual jiwanya menjadi hamba Lucifer. Dekat-dekat dengan cerita drama Faust-nya Goethe-lah.

Teka-teki kebahagian itu bisa didapatkan setelah Johnny Depp mati-matian membongkar misteri yang ditawarkan oleh buku itu, dengan mencari keterkaitan antara satu fakta dengan fakta lainnya yang dituliskan di buku itu, dengan memahaminya keseluruhan buku itu. Setidaknya itulah yang dijanjikan oleh pengarangnya. Saya pikir ada kaitannya dengan aksioma pada orang-orang yang membaca banyak buku, bahwa buku yang mengandung banyak pengetahuan itu bisa mengantarkan manusia untuk mengerti dirinya dan lingkungannya. Memahami fenomena yang ada pada dirinya dan pada dunia, yang dengan itu manusia mempunyai pemikiran untuk berbuat sesuatu, menaklukkan, menyesuaikan diri atau menyingkir, demi untuk menaikkan kadar kualitas dan kuantitas hidupnya. Buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan, adalah jendela dunia. Semakin banyak tahu dan mengerti apa yang terjadi dalam diri dan di luar diri, semakin lebih baiklah kehidupan kemanusiaan kita. Akankah dengan itu kebahagian bisa tercapai? Tunggu dulu, ingatkah anda sebuah pernyataan dalam Film Matrix yang bikin heboh itu, bahwa ketidaktahuan adalah kebahagiaan?

Bahkan dalam film Les miserables (1995), buku adalah petunjuk bagi seorang Jean Vaeljen dalam mengarungi hidupnya pada masa berkuasanya kekuasaan fasis di Eropa sekitar tahun 1940-an. Film ini pada awalnya menceritakan apa yang ada dalam novel berjudul sama yang ditulis oleh Victor Hugo. Kemudian dengan sangat cantik, karakter yang ada dalam novel dan bagian awal film itu, ditarik dari ruangnya dan dicocokkan pada keadaan lain, diterapkan pada masa kekinian. Seorang sopir truk membantu satu keluarga yahudi untuk keluar dari Perancis yang waktu itu dianeksasi oleh Nazi Jerman. Ia adalah seorang Jean Vaeljen baru. Dalam perjalanan melepaskan diri itu ia meminta keluarga itu menceritakan isi novel Les Miserables karena ia tidak bisa membacanya. Jadinya secara naif, atau memang karena untuk itulah film ini dibuat, ia menemukan banyak karakter yang sama dalam novel itu dengan kenyataan di depan matanya, bahkan meramalkan apa yang akan terjadi di depan. Ia hampir menjadikan buku itu kitab sucinya dalam mengarungi hidupnya. Tapi Ia dan film itu menyadari bahwa hidup tidaklah sesederhana seperti apa yang terdapat dalam novel itu.

(4)

Untuk kategori kedua, boleh saya sebut film Serendipity, film yang bertema roman percintaan yang mengintegrasikan buku pada keutuhan cerita filmnya. Seorang laki-laki dan perempuan bertemu secara kebetulan, melakukan aktifitas bersama dan saling jatuh cinta. Tapi karena merasa perasaan itu terlalu cepat datangnya, mereka memutuskan untuk mempertaruhkan masa depan hubungan mereka pada buku dan uang kertas.

Buku itu, Love in The Time Of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, yang telah ditulisi dengan nama dan alamat si perempuan, dijual/disimpan (?) oleh perempuan itu pada sebuah toko buku bekas. Kalau buku itu bisa ditemukan oleh si laki-laki, maka mereka berjodoh. Begitupun dengan nasib uang kertas itu, yang setelah ditulisi dengan alamat si laki-laki, dibelikan sesuatu oleh John Cussack, si laki-laki. Jika si perempuan bisa menemukan uang kertas itu kembali, mereka akan bersatu.

Si laki-laki memburu buku itu berbulan-bulan, dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Film ini menampilkan usaha laki-laki itu dalam gerakan cepat, karena banyaknya toko buku bekas di kotanya yang ia kunjungi. Perburuan buku itu menarik perhatian calon isterinya. Ia merasa bahwa buku itu sangat penting bagi calon suaminya, maka ketika mereka akan menikah, ia menghadiahi laki-laki itu dengan buku yang selama ini di burunya. Kebetulan yang kemudian benar-benar merubah jalan hidupnya.

Kenapa buku? Kedua orang itu adalah lulusan perguruan tinggi, berasal dari kelas menengah. Bahwa bagi mereka buku adalah barang yang penting. Tak ada salahnya bagi mereka untuk menghadiahi seseorang dalam acara yang penting dalam hidupnya dengan sebuah buku. Buku tokh bisa sama romantisnya dengan sepotong coklat atau seikat kembang merah. Dalam Film Nineth Gate pun, saya melihat bahwa buku dapat juga menunjukkan status sosialnya: kalangan menengah atas yang terdidik, terobsesi dengan eksklusifitas dan dalam gejala lain: sedikit snob.

Pemilihan judul buku itu, Love in The Time Of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, sangat relevan dengan apa yang diinginkan oleh tokoh-tokoh dalam film itu. Jika anda pernah membaca buku itu, yang menurut Marquez sendiri ditulis “from my gut”, anda akan menangkap keabadian cinta, melewati perjalanan waktu dan berbagai rintangan. Mungkin seperti itulah romantisasi cinta dalam bayangan mereka. Bahwa ada konflik sosial yang secara cerdas disamarkan oleh Marquez dalam bukunya itu, tidaklah mengganggu imajinasi mereka tentang kebahagiaan bersatunya cinta oleh sesuatu di luar kekuasaan mereka. Tokh konflik itu terjadi di nun jauh di sana, di sebuah negara dunia ketiga. Mereka, berada di sebuah negara dunia pertama yang makmur, tentu yang mudah-mudah saja yang sampai ke mereka.

Tapi benarkah hanya karena mereka berasal dari perguruan tinggi dan kalangan menengah atas? Bukankah lebih banyak film-film yang walaupun menghadirkan tokoh dengan dua kriteria di atas, buku atau toko buku tidak ditampilkan sebagai penanda?

(5)

Saya tidak tahu pasti. Kadang saya mencium bahwa aroma phobia buku tidak hanya menguar di negeri tercinta kita ini, tapi juga di sana, di sebuah peradaban yang sedang mengangkangi dunia, yang salah satu elemen pembangunnya adalah produk dari mesin cetak ciptaan Gutenberg itu. Saya masih sering membaca kekhawatiran orang tua tentang tingkah laku anak remajanya yang lebih sering menghabiskan waktu senggangnya membaca buku di kamarnya daripada bersuka ria dengan teman sebayanya. Dari hasil polling pun saya tahu bahwa di sana pun menjadi lebih tampan/cantik adalah lebih utama dan lebih diinginkan daripada menjadi lebih pintar. Saya juga berani bertaruh bahwa dana yang mereka keluarkan untuk kosmetika atau menyalurkan hobi jauh lebih besar dibandingkan dana untuk membeli buku.

Buku yang diasosiasikan dengan kuno, berat, serius, dan karenanya layak untuk dijauhi, tampil impresif dalam film-film remaja. Saya sering menangkap citra orang yang kutu buku sebagai penyendiri, tidak gaul, aneh, berkaca mata tebal, dandanan yang out of date dengan tingkah yang selalu jadi bahan tertawaan. Pokoknya enggak fungky dan bikin geli. Bagi kebanyakan remaja itu sangat menakutkan. Ketika citra itu dimamah biak, wajar jika membaca buku, menyambangi toko buku jarang mereka lakukan.

Syukurlah ada Ada Apa Dengan Cinta? Garapan Rudi Sudjarwo. Ia menawarkan citra lain remaja pecinta buku : tampan, sedikit gaul, tidak malu-maluin, punya “karakter”, walaupun tetap dingin. Ia penyuka puisi; di kamarnya ada gambar besar Chairil Anwar. Belum cukup juga, ditambahkan buku yang dibacanya adalah Aku, sebuah skenario film karangan Sjuman Djaya. Konon katanya ketika demam Ada Apa Dengan Cinta? melanda tanah air, banyak orang yang sengaja datang ke toko buku menanyakan buku itu. Mungkin mereka hendak meniru tingkah laku Rangga dan Cinta ketika berburu buku di Kwitang sana. Saya terkejut. Kenapa bukan toko buku “modern” yang tampil dalam adegan itu? Mungkin saja pembuat film memahami karakter kebanyakan orang Indonesia dalam berbelanja: menawar. Sesuatu yang kayaknya tidak mungkin didapatkan di toko buku “modern”. Tapi Kwitang adalah pasar buku yang menjual buku baru atau bekas dengan harga rabat. Ada faktor kesengajaan karena film itu ditujukan buat jadi konsumsi remaja, yang pasti kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Di sisi lain adalah jitunya pembuat film dalam memahami karakter kebanyakan orang Indonesia ketika membeli buku, faktor isi adalah nomor dua, yang paling menentukan dia membeli atau tidak adalah harga. Berbeda jika sedang memburu barang-barang hobi atau koleksi, dimana harga adalah faktor kesekian, harga buku adalah faktor utama karena masih nomor buncitnya kebutuhan akan buku bagi kebanyakan kita.

Saya mengajukan dugaan lain: harga buku kita memang relatif mahal bagi kebanyakan rakyat kita jika dilihat persentasenya pada pendapatan per kapita pertahun. Kita adalah salah satu negara dunia ketiga yang tingkat kesejahteraan rakyatnya sedikit lebih maju dibandingkan negara-negara Afrika sub-sahara sana. Anda bisa menyebut pajak terhadap kertas yang menjadi salah satu biang keladi mahalnya buku.

Memang seperti itu. Sudah saya katakan di muka bahwa pangsa film ini adalah para remaja yang kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Namun lihatlah tingkah pola Cinta dan ganknya dalam film itu yang begitu bersemangat menonton sebuah pertunjukan musik band terkenal di deretan paling depan atau makan minum di café, atau seperti kebanyakan remaja kita yang biasa mengeluarkan sekian ratus ribu rupiah perbulannya untuk membeli pulsa telepon genggamnya. Tidak nampak kere. Apalagi om-om yang menyediakan sekian e-M sebagai anggaran untuk membeli jaguar atau BMW seri terbaru. Membeli buku? Sudahlah.

Barangkali ini masalah konstruksi kesadaran. Di abad di mana informasi memegang peranan penting dalam mengatur tingkah polah manusia. Media massa, termasuk film, berhasil merekonstruksi kenyataan, mengisinya dengan nilai-nilai yang dianggap dominan dan menguntungkan, menyodorkannya pada pemirsa layaknya wahyu yang haram jika tidak diikuti. Mereka menciptakan kebutuhan, mengaburkan batas antar kebutuhan (need) dengan keinginan (want). Penonton tinggal menyesuaikan diri dengan citraan itu.

(6)

Saya malah menemukan bahwa buku dan toko buku dalam film drama percintaan digunakan untuk menunjang karakter aneh tokohnya, demi untuk mencapai derajat tertentu keromantikaan. Bukankah yang aneh-aneh, yang lain, kadang menjadi sesuatu yang eksotis untuk dicoba didekati? Eksotis berarti sesuatu yang murni, peka, yang belum tercampuri oleh hawa dunia atau rasio. Ada sifat misterius di sana, yang sangat menantang untuk dijamah. Film Notting Hill adalah contohnya. Seorang pemilik toko buku khusus buku perjalanan bertemu jodohnya dengan seorang selebritas terkenal. Anda mungkin tidak suka dengan film yang renyah, yang sejak awal anda sudah bisa menerka alur naik turunnya jalan cerita serta kesimpulan akhirnya yang biasanya happy ending.

Tapi bagi saya sendiri yang menarik dari film ini adalah pemilihan toko buku khusus buku perjalanan untuk menunjang karakter tokohnya. Hugh Grant memerankan tokoh yang sedikit pecundang, punya mimpi besar tapi tidak bisa dicapainya. Mimpi itu adalah melanglang buana melihat dunia, meninggalkan cuaca muram kota London dan kenyinyiran kerabatnya. Sangat ironik ketika kita tahu ternyata Hugh Grant belum pernah mengunjungi satu tempat pun yang diterangkan dalam buku-buku wisata yang dijualnya. Toko buku menjadi monumen kompensasi dari ketidakmampuannya merealisasikan mimpinya.

Toko buku menjadi awal cinta mereka tumbuh, sebagaimana dalam film The Cave (2001). Sebuah film Belanda, yang mempersilahkan toko buku menjadi awal tumbuhnya cinta di antara dua tokoh cerita. Di antara rak-rak buku yang sempit, Egon, seorang mahasiswa geologi, mendengar ada seseorang memainkan cello, seorang perempuan, mahasiswa sastra pada universitas yang sama dengan Egon, yang kelak menjadi isterinya. Saya sangat suka dengan interior toko bukunya. Rak-rak buku yang berhimpitan dan menjulang hingga menyentuh plafon, tumpukan buku-buku, tangga buku, di tengah-tengahnya terdapat sedikit ruang tempat menyimpan alat-alat musik: Piano, cello dan biola. Setiap pengunjung boleh memainkan alat musik itu. Tapi bisakah anda melepaskan diri untuk tidak mengaitkan alat musik itu dengan karakter buku dan toko buku yang sudah tertanam diotak kita. Apakah cello biasa dimainkan untuk sebuah komposisi musik underground, misalnya? Semua orang tahu bahwa cello biasanya dipakai untuk mengiringi komposisi musik klasik. Membaca buku membutuhkan konsentrasi dan konsentrasi akan lebih bisa tercapai kalau ruangannya nyaman dengan musik yang seirama dengan detak jantung manusia, yaitu musik klasik.

Makanya saya cukup terkejut ketika ketika ada sebuah toko buku di Bandung yang bernama Omunium, yang menemani pengunjungnya dengan musik underground, bukan dengan musik klasik atau jazz sebagaimana biasanya.

Film-film buatan negeri Eropa, terutama film Francis, memang paling sering memunculkan setting rak-rak buku, biasanya di dalam apartemen atau rumah biasa, dibandingkan film-film Hollywood. Kita bisa menyaksikannya pada Moulin Rouge (2001), Le Fabuleux Destin d’Amelie Poulain (2001) atau Les Miserables (1995) tadi, dan masih banyak lagi. Hampir pasti ketika kamera menyasar sebuah apartemen atau rumah tinggal, ada rak-rak buku.

Saking seringnya saya melihat tampilan buku dalam film-film Perancis, yang dalam beberapa film tidak begitu mempengaruhi keutuhan sebuah film, hanya sekedar numpang lewat, saya curiga jangan-jangan ada semacam kampanye “pembangunan karakter bangsa” dibalik film-film itu. Namun berbeda dengan umumnya kampanye serupa di tanah air, yang isinya melulu pengagungan pada tradisi dan moralitas ketimuran dan membuat oposisi biner: Timur/Barat, dengan Barat sebagai biang kerok, kampanye mereka berupa penegasan bahwa bangsa Perancis, selain bangsa yang memiliki sense of art yang tinggi, menghargai tradisi, juga adalah bangsa yang beradab, maju, menghargai intelektualitas dan rasionalitas, dengan cara mengambil alih karakter yang “melekat” pada buku. Seolah bangsa Perancis ingin menegaskan dirinya bahwa selain anggur dan café dan mode, buku adalah salah satu ciri lainnya dari kebangsaan Perancis.

(7)

Tapi bukankah buku juga adalah kesedihan, muram, lambang dari rasa sakit yang coba ditahan bertahun-tahun, kekecewaan, kegetiran, ketidakpercayaan pada dunia dan manusia? Dalam film Belanda berjudul Antonia’s Line, tokoh yang cukup dipanggil dengan nama kecilnya, Crocked Fingers, melihat buku adalah penawar sekaligus racun pada apa yang diyakininya, pada apa yang dilakukannya.Tua, antik, berkaca mata, rambut panjang awut-awutan, serius, tidak pernah keluar rumah, sejak ia pulang akibat terluka dalam Perang Dunia Kedua. Membaca buku terus, terutama yang bertema eksistensialisme. Karakternya dingin, sepanjang film kita tidak pernah diberitahu apa yang sedang berkecamuk dalam batinnya. Tawar. Buku, atau tepatnya aktifitas membaca dan merenung, adalah cara dia berlindung dari semrawutnya dunia. Tapi dititik yang sama, bukulah yang bisa memahami sekaligus memberi ciri dari apa yang sedang ia renungkan, pada apa yang ia rasakan. Coba kita dengarkan apa yang diucapkannya pada ulang tahun cucunya Antonia: mengajaknya mendaras buku Nietzsche. Hingga suatu saat ia menyadari bahwa segalanya sudah terlambat, ia tidak cukup memahami apa yang dilakukannya, tidak punya pilihan, kebosanan: yang terbaik adalah tidak dilahirkan, tidak ada, dan yang terbaik dari semuanya itu adalah mati; begitu dia menyitir ucapan Schoupenhaur. Ia memutuskan bunuh diri.

Teman nonton saya berkomentar begini: “gitu tuh kalau terlalu banyak baca buku, fatalis.” Saya cuma terkekeh. Mungkin ia harusnya menjelaskan buku apa yang dimaksud. Ada buku yang kalau kita baca bukannya membuat kita fatalis, tapi malah bergairah, bahkan mungkin agresif.

Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang menyarankan jangan terlalu dalam mempelajari filsafat, nanti bisa gila. Tapi yang saya tangkap malah ketakutan manusia kehilangan eksistensinya, penguasaannya secara jelas dan terang pada apa yang ia rasakan, ia lakukan, kekuasaannya pada dirinya sendiri. Gila adalah keadaan di mana diri tidak bisa lagi menguasai diri lain dalam tubuhnya. Semacam pembebasan. Kebebasan dari keharusan akan kejelasan, penyeleksian, pengaturan, penundukan eksistensi secara rampat papan pada sebuah nilai atau citra yang utuh padu. Gila adalah penghancuran kesatupaduan eksistensi itu, identitas diri itu. Orang sebenarnya takut dengan kebebasan. Ia memberikan rasa ketidakamanan. Filsafat memberi kesempatan membuka banyak diri dalam tubuh, yang dulunya mungkin tidak diketahui atau pura-pura tidak diketahui.

Kematian, kata Heiddeger, adalah satu-satunya yang bisa menghilangkan eksistensi manusia. Karena itu manusia takut dengan kematian. Tapi kematian adalah semacam kejelasan “setelah siang adalah malam”, pasti akan mencapainya. Kalau ada orang yang secara sengaja membuka pintu untuk kedatangannya? Nekat, tolol, atau ia memahami sesuatu yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang?

(8)

Sementara untuk film yang dalam cacatan saya masuk ke dalam kategori film, yang walaupun menampilkan buku atau toko buku tapi hanya sebagai tempelan saja, contohnya adalah film You’ve Got Mail. Bagi saya film ini tidak cukup keterkaitan antara karakter tokohnya dengan posisinya sebagai pemilik toko buku. Satu pemilik toko buku kecil khusus buku anak yang diperankan Meg Ryan, sedang lawan mainnya yang dimainkan oleh Tom Hank adalah pemilik jaringan toko besar yang hendak menyaingi toko buku milik Meg Ryan. Jika anda perhatikan secara utuh film itu anda mungkin akan sampai pada kesimpulan bisa saja toko buku itu diganti dengan, sebutlah, toko roti. Karena kayaknya karakter tokoh tidak dibangun oleh setting bangunannya. Tetapi oleh persepsi masyarakat akan betapa harusnya perempuan yang berumur lebih dari 30 tahun untuk berkeluarga atau tentang nostalgia masa lalu atau betapa anehnya cinta itu hadir.

(9)

Dengan naifnya saya sampai pada kesimpulan bahwa buku dan atau toko buku tidak dianggap sebagai kebutuhan, mengunjungi toko buku jarang masuk dalam agenda weekend kebanyakan kita, karena jangan-jangan tontonan kita sangat minim menampilkan gambar-gambar tentang buku atau suasana toko buku yang seimpresif, semenyenangkan, sekelas dengan mengunjungi mall atau belanja di butik. Banyak bukti yang menunjukkan ketika sebuah film idenya berasal dari buku atau menyebut-nyebut sebuah buku dalam film itu, orang-orang dengan antusias mengunjungi toko buku untuk membeli buku tersebut. Novel The Hours, karangan Michael Cunningham dan buku-buku karangan Virgiana Wolf, terkerek naik penjualannya begitu filmnya, The Hours, diputar di Jakarta. Atau buku Aku-nya Sumandjaya yang ikut-ikutan dicari orang gara-gara numpang dalam film Ada Apa Dengan Cinta?

Mungkin ironis karena ia mengikuti hukum trend. Begitu filmnya tidak dibicarakan lagi, tergilas oleh film lain yang sama sekali tidak menampilkan buku atau toko buku sebagai sesuatu yang indah, romantis dan perlu, maka buku dan toko buku kembali sepi, iseng sendiri.


Yogyakarta, 2 November 2003

[versi lengkap; versi ringkas pernah dimuat di Majalah Mata Baca]